ISLAM RAMAH LINGKUNGAN

(Menelusuri Jejak Rukun Islam Ke Enam)

Oleh:

Kang Muthok

PENGANTAR

Ketika masalah lingkungan atau wawasan ekologi hampir tidak mendapatkan tempat dalam agama tak terkecuali agama islam. Agama mampu berbicara panjang lebar dan detail mengenai dunia lain akhirat beserta isinya: surga, neraka, malaikat, bidadari dll), ibadah zikir beserta pernik-perniknya), teologi (sifat Tuhan, zat Tuhannya), moralitas individual dan lain-lain. Tetapi, hampir-hampir tidak pernah menyinggung masalah dunia ekologi (lingkungan hidup). Padahal masalah lingkungan hidup yang sangat fundamental dalam kehidupan orang tidak mengindahkan lingkungan, malapetaka terjadi. Bukankah banjir dan sejumlah penyakit mematikan seperti berdarah (DB), Covid-19 dll juga sangat terkait dengan masalah lingkungan? Lihatlah pemandangan memerihkan dewasa ini: banjir, tanah longsor, polusi, badai, cuaca yang labil hampir datang bertubi-tubi, silih berganti

Manusia lupa ketika Allah jelas-jelas memerintahkan mereka untuk segala yang telah diciptakannya “dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai”. (Q.S Al-A’raf:179).

Pertanyaannya, kenapa umat beragama (termasuk umat Islam) tidak menganggap penting masalah lingkungan sebagaimana ibadah ritua-individual? Kenapa umat Islam tidak tertarik melakukan penghijauan kebersihan dan kegiatan lain yang bernuansa “ramah lingkungan” cara mencegah berbagai madharat (ekses negatif) yang mungkin ditimbulkan dari alam yang tidak sehat?

PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP ALAM DAN LINGKUNGAN

Lingkungan adalah “semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia atau hewan”, sedangkan lingkungan alam adalah “keadaan sekitar yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku organisme”. Adapun yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah, “segala sesuatu yang berada di sekeliling makhluk hidup (organisme) yang mempunyai pengaruh timbal balik terhadap makhluk hidup tersebut”.

Manusia memandang dirinya sebagai pusat alam semesta, sebagai pusat dan tolok ukur bagi semua kebijakannya dalam penataan seluruh alam semesta. Manusialah yang diberikan mandat untuk memberikan nama kepada semua ciptaan yang ada. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa alam hanya semata menjadi objek untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk menguasai alam, tetapi bukan mengeksploitasi dan mendominasi dalam hal yang buruk. Kata “menguasai” sebenarnya adalah memahami, mengenali secara mendalam dan karenanya memanfaatkan untuk kehidupan yang lebih baik, bukan sebaliknya menyebarkan kematian. Ciptaan yang sebenarnya setara kedudukannya berubah menjadi objek-subjek karena paham antroposentrisme. Krisis lingkungan sebenarnya muncul dari sikap dan cara pandang antroposentris. Sikap antroposentris yang kemudian diikuti dengan teknologi dan pengetahuan modern yang tidak bertanggungjawab, menjadi satu paket yang pada akhirnya memperparah kehidupan di alam semesta.

  1. Antroposentris

saling mengasihi dan memelihara. Inilah yang menjadi kritikan jika manusia cenderung mengklaim kalau alam hanya diciptakan untuk dirinya, maka yang dia lakukan adalah bertindak sesuka hatinya dan hal ini masih terjadi dalam masyarakat kita.

Ada beberapa masyarakat yang masih menganut paham bahwa semua ciptaan yang ada di dunia diciptakan untuk dirinya, hal ini membuat masyarakat  berasumsi bahwa, dia bebas untuk melakukan apa saja terhadap lingkungan. Bahkan ada masyarakat yang berpendapat kalau tanah yang Tuhan ciptakan adalah tempat mencari makan dan minum sehingga tidak menjadi persoalan ketika tanah diolah sedemikian rupa sesuai dengan keinginan mereka.

2. Biosentris

Pandangan biosentris berpendapat bahwa bukan hanya manusia saja yang bernilai dan memiliki citra yang serupa dengan Allah, tetapi alam juga mempunyai nilai yang sama yang setara dengan manusia. Pandangan ini menegaskan bahwa semua makhluk memiliki nilai pada dirinya sendiri sehingga pantas untuk diperhitungkan. Hubungan yang didasarkan antara manusia dan alam dan seluruhisinya memiliki harkat dan nilainya dalam komunitas kehidupan di bumi. Alam sendiri mempunyai nilai justru karena ada kehidupan di dalam dirinya. Manusia juga demikian menjadi bernilai dan berarti justru karena kehidupan yang ada di dalam dirinya. Sampai pada akhirnya tanah dan bumi dengan demikian memiliki arti dari dirinya dan harus diperlakukan dengan adil karena hidupnya.

3. Ekosentrisme

Jika dalam pandangan antroposentris yang berpusat hanya pada manusia dan biosentris yang berpusat pada semua makhluk hidup selain manusia, maka ekosentrisme memusatkan perhatiannya pada komunitas ekologis, baik yang hidup maupun yang tidak hidup (tanah, air, udara). Karena secara ekologis, semua makhluk hidup dan benda abiotik selalu berkaitan satu sama lain dan saling membutuhkan.

MELESTARIKAN LINGKUNGAN

Melestarikan lingkungan bukan berarti melanggengkan lingkungan dalam keadaan tidak berubah, karena yang demikian tidak sejalan dengan pengangkatan manusia sebagai khalifah di bumi. Yang dimaksud dengan pelestarian lingkungan adalah upaya melestarikan kemampuannya sehingga selalu sesuai dan seimbang. Dengan demikian tugas tugas ke manusia sebagai khalifah tidak boleh mengakibatkan terganggunya keserasian dan keseimbangan yang menjadi ciri alam semesta semenjak diciptakan. Apabila dalam proses melaksanakan tugas ke khalifahan itu terjadi dampak yang kurang baik, maka dengan segera harus dilakukan upaya untuk meniadakan atau paling tidak mengurangi sedapat mungkin dampak-dampak negatif tersebut.

Pelestarian lingkungan alam akan mampu diwujudkan jika kita tidak lagi memandang alam hanya bersifat instrumental atau hanya memiliki nilai guna, dengan kata lain kita memandang alam melalui sudut pembacaan “ekologi dalam”, yakni bahwa manusia dan alam itu satu kesatuan. Sehingga kita benar-benar melihat dunia bukan sebagai kumpulan obyek-obyek yang terpisah tetapi sebagai suatu jaringan fenomena yang saling berhubungan dan saling bergantung satu sama lain secara fundamental.

Perhatian atau rasa sayang mengalir secara alamiah jika diri kita diperluas dan diperdalam sehingga perlindungan terhadap alam bebas dirasakan dan dipandang sebagai perlindungan terhadap diri kita sendiri. Sebagaimana kita memerlukan moral untuk membuat kita bernafas, begitulah jika diri kita dalam arti luas menerima makhluk lain dan kita tidak memerlukan nasehat moral untuk memperlihatkan perhatian. Kita memperhatikan diri kita sendiri tanpa merasakan paksaan moral apapun yang melakukanya. Jika realitas tersebut dialami oleh diri yang ekologis, perilaku kita akan mengikuti norma-norma etika lingkungan alami secara alamiah dan indah.

MENELUSURI JEJAK RUKUN ISLAM KE ENAM

Rukun adalah praktik. Untuk mengatakan bahwa rukun dideskripsikan dan didefinisikan dalam pengertian aktivitas. Apa yang perlu kita lakukan untuk menjadi seorang muslim?. Pertanyaan ini tentu saja tidak berhubungan dengan tingkat keimanan, pemahaman, atau niat. Artinya untuk menjadi seorang muslim diperlukan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan nilai-nilai keislaman yang tentu saja sudah diatur dalam beragam kitab yang mengkaji tentang kesilaman.

Dalam islam biasanya para ulama membuat pola pembedaan kajian dalam tiga ketegori pokok yakni: Iman, Islam dan Ihsan. Pembahasan iman terangkum dalam enam rukun iman beserta dengan cabang-cabangnya. Kemudian islam terangkum dalam lima rukun islam beserta tata cara yang mengatur pelaksanaanya. Namun bagaimana dengan yang terakhir, ihsan? Adakah rukun ihsan, atau sebenarnya konsep ihsan hanyalah tambahan? Sehingga  tidak memerlukan rukun yang bersifat permanen.

Hampir keseluruhan kajian islam memahami konsep ihsan sebagai kualitas psikologis seseorang agar harmoni dengan aktivitas “keislamannya” dan pemahaman “keimanannya” atau persoalan intensiaonalitas niat manusia. Yang demikian, karena banyaknya para sarjana muslim menyadarkan konsep ihsan pada hadits Nabi Muhammad yang menjelaskan bahwa ihsan adalah “Menyembang Allah sebagaimana jika engkau melihatnya, dan jika engkau tidak melihatnya maka sesungguhnya Ia melihatmu” (HR. Bukhori).

Jika demikian ihsan bukanlah ajaran tambahan, melainkan ajaran pokok yang seharusnya dilakukan seorang muslim sebagaimana dirinya melakukan rukun iman dan islam. Namun orang cenderung lalai terhadap konsep terakhir ini, meski ia adalah penyempurna dari dua dimensi sebelumya (iman dan Islam) artinya bahwa ihsan adalah puncak kesempurnaan bentuk penyembahan kepada Allah. Orang mungkin mudah menjadi mukmin karena ia hanya memerlukan keyakinan dalam diri, sebagaimana mudahnya ia mengaku muslim hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, untuk menjadi Muhsin orang memerlukan kesinambungan antara apa yang dikatakan dengan apa ayng diyakini, sebelum kemudian membuktikannya melalui aktivitas.

Disinilah mengapa ihsan tidak mempunyai rukun sebagaimana iman dan Islam, atau mungkin saja Allah membuat dispensasi pada manusia untuk menentukan rukun Ihsannya sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dan tentu saja standar pembuatan rukun ihsan itu sendiri harus mengacu pada “bahwa penyembahan yang kita lakukan (nyata atau rahasia) tuhan selalui mengawasi dan mengetahuinya”. Konsep rukun ihsan sangatlah luas yang demikian karena kata ihsan sendiri mengandung artian segala kualitas positif (kebaikan, arah, tepat, indah, keelokan, kegembiraan, harmoni, simetri, diharapkan).  “dan Sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan”. (Q.S. Qaf: 38).

PENUTUP

Bisa jadi yang dikehendaki Allah pada manusia setelah mencapai puncak spiritualitas adalah menjaga keseimbangan bumi. Sehingga bisa jadi juga rukun islam yang ke enam sebagaimana diisyaratkan Allah dalam proses penciptaan alam semesta adalah menjaga keseimbangan alam semesta. Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *