(Upaya keluar dari Sikap Egoisme Beragama)

Oleh:

Kang Muthok

PROLOG

Dimensi kebenaran itu tidak tunggal melainkan beragam, ada kalanya sesuatu itu benar secara rasional, namun ketika diamati dalam persprektif etik ternyata sesuatu tersebut tidak etis, ada kalanya sesuatu sudah benar atau sudah etis, namun tidak umum, tidak masuk pada logika sosial, kalau di sampaikan atau dipraktikkan dapat mengundang masalah sosial. Nah pada tulisan ini penulis ingin membahas salah satu cara berfikir yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, yang sebenarnya sudah biasa kita lakukan dalam kehidupan yaitu berfikir religius. Berfikir religius merupakan tindakan berfikir untuk menyikapi suatu peristiwa yang dihadapi baik itu peristiwa di dalam diri maupun di luar diri dengan menggunakan parameter ajaran agama atau norma-norma agama yang diyakini. Misalnya kita berhadapan dengan suatu peristiwa tertentu, untuk dapat menyimpulkan suatu peristiwa yang di alami kita menggunakan paramater rujukan agama yang di yakini, itulah yang disebut berfikir religius. Namun, yang namanya berfikir itu sifatnya selalu aktif, tidak pasif, menggunakan instrumen akal untuk dapat melakukan aktifitas berfikir. Meskipun berfikir menggunakan akal, dasar keimanan tetap menjadi pondasi utamanya. Keimanan disini adalah keimanan yang aktif bukan keimanan yang pasif. Maksudnya sumber berfikir religius adalah dari agama, sehingga ketika mengoperasikan keimanan itu dalam tata cara kehidupan untuk menghadapi problematika sehari-hari dibutuhkan kerja akal. Tanpa diperdebatkan orang yang berkomitmen kepada suatu agama, pasti secara naluriah menggunakan pertimbangan keimananya, karena keimanan secara tidak langsung akan tetap ikut bermain dalam mengambil keputusan-keputusan hidupnya.

Sebagian orang masih merasa kaku atau bahkan takut dalam menggunakan akal untuk mengatasi persoalan kehidupan, padahal kalau kita sudah berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat konsekuensinya sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab, seharusnya warna hidup kita sesuai dengan komitmen yang telah diikrarkan. Hanya saja ternyata cara beragama, gaya dan pola beragama masing-masing orang itu beda-beda termasuk kematangan dan kedewasaan beragama. Nah pada tulisan ini juga akan membahas tentang cara beragama, pola beragama, kesadaran beragama yang bermacam-macam dan akan dibahas dalam konteks berfikir religius, karena dengan berfikir religius dapat mengasah akal budi dalam menghadapi problem hidup yang semakin kompleks.

PENTINGNYA BERFIKIR RELIGIUS

Berfikir religius sangatlah penting, karena ini merupakan keterampilan dasar yang sangat perlu ditanamankan kepada diri kita atau juga kepada anak-anak. Mengapa penting ? karena selama ini pengajaran atau pendidikan agama itu banyak modelnya, yang paling umum dilaksanakan dalam memberikan pengajaran agama diantanya adalah transfer knowlage atau mentranfer pengetahuan, jadi dalam memberikan pengajaran pengetahuan yang dimiliki oleh guru ditranfer kepada muridnya. Ada juga pendidikan agama yang modelnya coltivate comitmen artinya pengajaran agama untuk membuat orang tambah percaya, meski sudah percaya dimantapkan lagi di yakinkan lagi sehingga makin percaya. Ini juga penting, namun jika hanya berfokus pada ini saja maka akan ada hal lain yang lebih penting tidak akan tersampaikan.  Kemudian model pengajaran agama berikutnya adalah to train ritual competence artinya mengajarkan ritual, hal ini biasanya pengajaran agama yang diajarkan untuk anak-anak agar melatih melakukan ritual seperti sholat puasa dan lain sebagainya. Secara sosial pengajaran agama berikutnya adalah to sustain community artinya melestarikan komunitas, maksudnya mengajarkan agama pada anak-anak atau pada murid-murid sesuai dengan versi pemahaman kelompoknya sendiri. Padahal dalam agama itu banyak aliran-aliran atau madzhab-madzhab biasanya masing-masing ingin memperkuat identitasnya sehingga pendidikan agama itu ingin melestarikan komunitasnya. Pengajaran agama berikutnya adalah To stimulate eksperience artinya medorong pengalaman. Secara umum, model pengajaran agama yang tersebut di atas sudah baik, dan sudah sesuai serta semuanya penting untuk diterapkan karena model-model tersebut harus tetap dijalankan.

Namun, ada satu pengajaran agama yang jarang disentuh dan dilaksanakan yaitu to develop religius thingking, artinya mengembangkan kemampuan berfikir religius, ini sebenarnya adalah cara bagaimana agar agama tidak hanya dianggap sesuai dengan yang diketahui, dihafalkan dan dijalankan, tapi agama juga menjadi bekal untuk menghadapi problem apapun dalam hidup. Karena agama tidak hanya hidup diwilayah privat keberagamaan, tapi juga hidup dalam kehidupan nyata sehari-hari, di sinilah pentingnya mempunyai kemampuan berfikir religius, karena sebagai senjata dalam menghadapi problem hidup sehari-hari.

KEMAMPUAN BERFIKIR RELIGIUS

Kemampuan berfikir religius ini menjadi penting agar sebagai umat beragama tidak cepat marah, cepat kaget, cepat hadeh. Sehingga diperlukan kemampuan berfikir religius. Selain itu, berfikir religus itu sangat erat dengan pola beragama. Beberapa pola beragama sejauh yang diketahui penulis adalah sebagai berikut:

  1. Pola Teologis

Pola teologis ini dimulai dari percaya dilanjutkan dengan memahami dan diwujudkan dengan menjalankan. Artinya disini yang terpenting adalah percaya atau iman terlebih dulu, baru setelah itu akal bekerja untuk berfikir dan baru dilakukan sebuah tindakan.

  • Pola Filosufis

Pola filosufis ini dimulai sebelum percaya/iman harus mendalami dulu, difahami, dicarikan argumentasinya, baru setelah itu percaya, dan kalau sudah percaya diwujudkan dengan menjalankan. Pola ini biasanya dilakukan oleh para filosuf. Dalam pola ini berfikir menjadi prioritas pertama sebelum seseorang itu mengimani dan menjalankan.

  • Pola Mistik

Pola mistik ini dimulai dengan percaya/iman terlebih dulu, kemudian dijalankan dan terakhir baru difahami. Biasanya ini dilakukan oleh para sufi. Pemahaman para mistikus ini banyak diperoleh dari pengalaman baru dijelaskan menurut pengalaman batinnya. Dalam pola ini berfikir berada dibelakang, karena pemahaman, argumentasi dll diperoleh setelah seseorang menjalankannya.

Dari ketiga pola tersebut dapat diketahui bahwa cara berfikir juga ditentukan oleh pola beragama, dimana akal digunakan, apakah di tengah seperti pola teologis atau diawal seperti filosofis dan diakhir seperti para sufi.

Kemampuan seseorang dalam berfikir religius juga ditentukan dengan kesadaran beragama. Ada beberapa level kesadaran beragama dan lavel kesadaran beragama setiap orang itu berbeda-beda. Orang beragama itu ada yang kesadaran formalistik ada yang kesadaran intelektualistik, kesadaran mistik, dan kesadaran profetik.

  1. Kesadaran formalistik

Kesadaran formalistik merupakan kesadaran yang berfokus pada apa yang harus dijalankan dan apa yang harus ditinggalkan. Dalam kesadaran ini, kerja akal tidak banyak. Namun, bukan berarti kesadaran ini tidak baik, sebagai awal membangun sebuah kesadaran beragama, kesadaran formalistik ini sangatlah penting. Kalau hanya berhenti pada kesadaran formalistik tanpa mengetahui arah, argumen, tujuan, dasar dan lain-lain dihawatrikan seseorang akan terjebak pada kekakuan berfikir dan terjebak pada satu hal sehingga menjadikan pemahaman agama tidak luas.

  • Kesadaran intelektualistik

Pada lavel kesadaran intelektualistik ini menegaskan bahwa ketika beragama seseorang harus tahu dasarnya, faham argumennya, mengerti hikmahnya. Jadi seandanya melakukan sesuatu ia sudah mengetahui dasarnya, atau meninggalkan sesuatu sudah memahami maksudnya. Jadi jika dalam kesadaran formalistik hanya dijalankan sesuai perintah dan larangan namun dalam kesadaran intelektualistik ini seseorang sudah tambah sadar karena sudah mengetahui hikmah menjalankan atau meninggalkan. Jadi pada lavel kesadaran intelektualistik ketika memahami agama sudah tambah mantap dan tidak ragu-ragu lagi. Dalam kedasaran ini akal sudah mulai didayagunakan.

  • Kesadaran mistik

Kesadaran mistik berada pada level yang ke tiga, pada lavel kesadaran ini orang yang beragama tidak hanya fokus pada apa yang dia jalankan meskipun sudah mengetahui argumen, alasan, dasar dan dalil beragama, namun lebih jauh menetapkan ajaran agama sebagai jalan untuk dapat semakin meningkat kualitas dirinya. Seperti contohnya kehidupan para sufi yang terus berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas spiritualnya, berusaha untuk semakin dekat dengan Allah karena ini merupakan tingkat rohaniyah yang paling tinggi. Tentu saja orang-orang pada level ini sudah menggunakan akal budinya untuk refleksi diri.

  • Kesadaran profetik

Kesadaran profetik merupakan kelanjutan dari kesadaran mistik. Hal ini merupakan tingkatan kesadaran para Nabi. Banyak mistikus yang berhenti hanya pada kesadaran mistik, jadi fokusnya hanya bagaimana agar kualitas dirinya meningkat karena itu merupakan puncak kenikmatan diri. Tapi berbeda pada kesadaran profetik setelah meningkatkan kualitas diri selanjutnya mereka merasa punya tanggung jawab untuk mengajak orang lain melakukan hal yang sama, mereka tidak hanya berhenti setelah mengalami puncak kenikmatan terhadap dirinya sendiri, juga akan berusaha menularkan kebaikan yang sudah dialami agar dapat dinikmati oleh orang lain. Nah dalam kesadaran ini seseorang sudah mulai merasa penting untuk menyebarkan pengalamannya misalnya dengan menulis kitab, berdakwah, memberi nasehat kepada umat, berorganisasi dan lain-lain. Jadi dalam kesadaran profetik seseorang tidak berhenti pada naiknya kualitas dirinya tapi juga berfokus pada manfaat dan maslahat dirinya kepada masyarakat secara umum. Akal budi seseorang pada tingkatan ini sudah digunakan semaksimal mungkin bukan hanya untuk memahami perintah dan larangan atau memahami diri sendiri, melainkan juga memahami masyarakat sekitar, disinilah tuntutan berfikir religius diperlukan.

Berdasarkan ke empat kesadaran di atas sebagai manusia biasa kita bisa refleksi diri, ada di posisi manakah sebenarnya diri kita, atau bahkan belum ada sama sekali dalam tingkatan kesadaran beragama yang tersebut di atas, silahkan direnungkan sendiri-sendiri.

Dalam berfikir religius pasti akan dipertemukan antara akal dengan agama. Seperti yang sudah dijelaskan di atas berfikirs religius menggunakan instrumen akal secara aktif, sehingga ada beberapa kemungkinan ketika akal bertemu dengan agama. Pola pertemuan akal dengan agama yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut:

  1. Akal mendukung dan menjelaskan kebenaran agama

Pada pola ini akal hanya bertugas menjustifikasi, mendukung dan menjelaskan kebenaran agama. Kajian lebih mendalam sebenarnya sudah ada dalam tradisi islam yiatu dikaji dalam ilmu kalam. Ketika akal mendukung dan menjelaskan kebenaran agama berarti beragama seseorang itu diawali dari keimanan kemudian akal hadir untuk menunjukkan sisi kerasionalitasan keimanan seseorang. Jadi kalau masih ada orang yang ketakukan dalam pertemuan akal dan agama dalam gaya ini masih aman, karena akal tidak bermain apapun selain ia mendukung dan menunjukkan kebenaran agama.

  • Akal berfungsi mengurai pengalaman agama

Pada pola ini akal justru datang paling belakang untuk menjelaskan penghayatan atau pengalaman seseorang dalam menjalankan perintah agama. Ketika akal berfungsi mengurai pengalaman agama berarti seseorang pertama-tama harus percaya/iman, kemudian menjalankan dan yang terakhir menguraiakan dan memahami dengan akal berdasarkan pengalaman spiritual masing-masing orang.

  • Akal memberi ruang kepada agama

Pada pola ini akal berjalan sendiri sesuai cara berfikirnya tapi juga memberi ruang pada agama. Agama jalan sesuai rel nya dan akal juga jalan sesuai fungsinya, keduanya sama sama jalan. Asumsi dasar berfikirnya adalah akal tidak akan bisa memahami fungsi agama karena akal ini jangkauanya hanya fisik saja, hanya yang bisa diamati panca indera, sedangkan agama juga menjangkau hal yang meta fisik. Hal ini sebenarnya juga tidak berbahaya, akal tidak mengotak atik domain agama, meski dalam konteks tertentu akal dan agama ini juga dimungkingkan terjadi kres.

  • Akal menganalisis nalar dan fenomena agama

Pada pola ini akal bekerja di luar gelanggang, artinya akal hanya bertugas membaca fenomena agama kemudian di analisis secara ilmiah dan disimpulkan menjadi ilmu pengetahuan. Akal tidak terlibat dalam praktik keberagamaan, namun akal hanya menjelaskan fenomenanya saja.

  • Akal berfungsi kritis

Pada pola ini akal berfungsi kritis terhadap keberagamaan. Sering kali keberagmaan seseorang itu tidak nyambung atau bertentangan dengan idealitas agama yang diyakininya. Disinilah fungsi akal masuk untuk menjalankan fungsi kritistnya. Misalnya agama itu mengajarkan cinta damai, namun faktanya malah ada tokoh agama yang melakukkan tindakan tidak cinta damai dalam keberagamaan. Akal disini berfungsi kritis, sehingga orang disadarkan karena mengkritisi agama, adanya inkonsistensi dari moral yang diyakininya dengan realitas yang ada. Pada konteks ini seseorang juga memerlukan cara berfikir pada pola kritis ini, terkadang pemahaman terhadap agama yang kita ketahui masih salah, atau ada pengetahuan diluar pengetahuan kita yang belum kita ketahui. Tentu dalam konteks ini agama pasti benar dan tidak salah, kitab sucinya juga benar, tapi pemahaman kita kadang yang masih salah, akal budi kita masih tertutupi oleh keduniaan, kepentingan pribadi dan golongan sehingga menutupi kebenaran, di sinilah dibutuhkan fungsi akal untuk mengkritisi. Sehingga dengan akal dapat menunjukkan antara yang diidealkan dan realitanya tidak sama, antara yang di ceramahkan dan dilakukan tidak sama. Inilah fungsi kritisnya akal.

Jadi Ketika akal bertemu dengan agama polanya macam-macam dan tidak sama. Berarati dalam berfikir religius kita benar-benar meluaskan wawasan kita, meluaskan sudut pandang agar tidak sempit, selama ini kalau kita bicara agama seolah-olah kaku dan sempit, semoga dengan ini kita sadar ternyata semua itu adalah ekspresi beragama seseorang, hanya saja caranya yang berbeda-beda.

EPILOG

Berfikir religius berarti mendaya gunakan akal untuk memperhatikan dan menganalisis sesuatu guna mengetahui rahasia-rahasia yang terpendam untuk memperoleh kesimpulan ilmiah dan hikmah yang dapat ditarik dari analisis. Kerja akal di sini membuahkan ilmu pengetahuan sekaligus perolehan hikmah yang mengantar pemiliknya mengetahui dan mengamalkan apa yang diketahuinya dan yang terpenting dapat menyelesaikan problem kehidupan sehari-hari dengan tetap berpedoman pada norma-norma agama.

Dengan berfikir religius kita juga akan terhindar dari sikap egoisme beragama, karena orang yang berfikir religius wawasanya akan luas, memandang kebenaran tidak hanya dari satu sudut pandang sehingga melahirkan sikap yang lebih, moderat, toleran, terbuka, tidak kaku, dan selalu peduli terhadap sesama.

By mwcnu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *